pembuka profil penelitian&publikasi kuliah kontemplasi
29 May 2008
Stabilitas Jamaah, Instabilitas Parpol
[Tulisan ini adalah artikel untuk LKPSM NU DIY]

Dulu mungkin banyak orang menilai bahwa periode 1952-1955 adalah masa-masa paling menggairahkan bagi NU secara politik. Tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan merubah diri menjadi partai politik. Dalam masa tiga tahun, partai NU menghimpun energi politiknya untuk bertarung dalam dua pemilu di tahun 1955 (yakni pemilihan anggota DPR dan pemilihan anggota Konstituante dalam waktu yg berbeda). Di tengah sindiran sebagai partai yang miskin intelektual modern (“tak punja banjak meester [in de rechten] dan insinjuur”), atau ejekan sebagai ‘partai-nja kaum sarungan’ (PKS), NU nyatanya berhasil menduduki peringkat ketiga dalam pemilu.

Namun kini kita bisa katakan bahwa periode 1952-1955 itu tak ada apa-apanya dibandingkan masa 10 tahun reformasi ini. Periode 10 tahun dari 1998 hingga 2008 adalah masa yang secara politik paling meriah dan dinamis bagi NU. Ada ambisi-ambisi politik baru, ada persaingan-persaingan teologis-politis baru, ada format-format jejaring kekuasaan baru, dan tentu saja ada konflik-konflik baru yang jelas menuntut NU untuk mampu menata diri dengan sebaik-baiknya agar tetap relevan secara internal dan eksternal.

Banyak aspek dalam kegairahan politik baru ini yang bisa kita cermati. Dalam tulisan ini, saya hendak melihat salah satu aspek, yakni problematika hubungan antara NU sebagai jamaah dan jam’iyah di satu sisi, dengan partai-partai politik yang berkerumun gaduh saling meng-klaim diri (baik karena tautan ‘formal’ maupun karena kesamaan basis sosial) sebagai partainya para Nahdliyyin dan Nahdliyyat di sisi lain. Tulisan ini berpijak pada asumsi bahwa parpol-parpol tersebut memiliki basis politik yang tidak begitu stabil, baik karena lemahnya platform partai, ketergantungan pada figur, serta konflik kepentingan yang tak diselesaikan secara sehat. Sementara itu, NU sebagai jam’iyah diniyah (juga sebagai sebuah jamaah) tetap mempertahankan stabilitas relatifnya. Yang patut kita khawatirkan adalah jika instabilitas parpol dengan klaim NU itu berimbas dan mempengaruhi stabilitas NU sebagai jamaah dan jam’iyah.

Jamaah, Jam’iyah, dan Parpol

Pada dasarnya, NU perlu dipahami dalam dua dimensi pokok, yakni dimensi jamaah dan dimensi jam’iyah. Dimensi jamaah adalah dimensi ‘informal’ komunitas NU, yakni kaum ahlussunnah wal jamaah dengan panutan fiqh keempat mazhab (Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hanbali), dengan teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah, serta rujukan tasawuf pada Al Ghazali dan Junayd al-Baghdadi. Dalam aspek teologis dan tasawuf inilah komunitas NU berbeda dari kaum salafi. Secara sosial, jamaah NU ini memiliki komunitas inti kiai dan santri dalam lingkup pesantren.

Pada dimensi formal, NU adalah sebuah jam’iyah yang telah berulang kali mengalami metamorfosa. Ia dimulai sebagai sebuah jam’iyah diniyah di tahun 1926, memulai langkah politik di tahun 1933 ketika bergabung dengan MIAI dan kemudian Masyumi, mematangkan langkah politik selama masa 1945-1952 dalam partai Masyumi, serta berubah menjadi partai politik selama kurun 1952-1973. Fusi dalam PPP (1973-1984) pada dasarnya adalah masa moratori politik bagi NU. Perkembangan politik saat itu mematangkan gagasan dalam NU untuk berubah wujud lagi menjadi jam’iyah diniyah, yang dikristalkan dalam keputusan untuk kembali ke Khittah 1926 dalam muktamar di Situbondo, 1984. Masa 14 tahun hingga 1998 adalah masa yang penuh dengan upaya untuk melepas diri dari politik kepartaian, namun jelas-jelas tidak membawa NU sama sekali keluar dari arus politik.

Pasca jatuhnya Soeharto tahun 1998, angin pukau politik kembali memunculkan dimensi partai dalam NU. Kali ini, ia menjadi dimensi ketiga tanpa menggantikan dimensi jam’iyah. Beberapa tokoh NU mendirikan PKB segera setelah liberalisasi kepartaian berjalan. Di saat yang sama, PNU dan PKU juga hadir dalam klaim basis sosial yang sama, dan bersama PKB turut dalam Pemilu 1999. PNU kelak harus merubah diri menjadi PPNUI agar bisa kembali turut dalam Pemilu 2004, kendati tetap dengan suara yang jauh di bawah PKB. Pada era ini, kiprah parpol dengan latar belakang basis sosial NU ini kerap jauh lebih menonjol daripada ‘rumah induknya’. Sayangnya, pada dimensi ini banyak terlihat letupan konflik yang seolah tak kunjung reda. Yang paling akhir kita bisa melihat serangkaian konflik semenjak tahun 2005, yang berujung pada lahirnya PKNU serta belakangan perpecahan internal (lagi) dalam tubuh PKB.

Relasi Berisiko

Ketiga dimensi (jamaah, jam’iyah, dan partai politik) tersebut menciptakan hubungan segitiga yang terkadang problematik. Ada beberapa aspek penting yang perlu disoroti.

Aspek terpenting ialah bahwa ketiga sudut dalam segitiga ini memiliki derajat kepercayaan publik yang sangat berbeda. Survey yang dilakukan oleh AsiaBarometer di tahun 2004 (Inoguchi et al. 2004), serta dikonfirmasi oleh survey PPIM 3 tahun kemudian (PPIM 2007), menunjukkan bahwa lembaga agama (termasuk ulama dan pesantren yang merupakan komponen inti komunitas NU) memiliki tingkat kepercayaan sangat tinggi dari masyarakat. Sebaliknya partai politik memiliki kepercayaan sangat rendah. Dalam ranking berdasarkan survey AsiaBarometer itu, lembaga agama berada pada peringkat teratas, sedang parpol berada di peringkat terbawah

Pada tahun 2005, berdasarkan hasil survey AsiaBarometer tersebut saya menulis sebuah artikel di sebuah harian tentang hubungan antara pesantren dan partai politik. Dalam artikel itu saya menyampaikan pandangan bahwa pola relasi antara pesantren dengan partai-partai politik cukup berisiko (Karim, 2005). Dari sudut pandang hasil survey di atas, hubungan antara jamaah NU (dan jejaring pesantrennya) dengan partai politik adalah hubungan antara lembaga yang paling dipercayai oleh masyarakat dengan lembaga yang paling tidak dipercayai oleh masyarakat. Bagi parpol, ini adalah kesempatan paling baik untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadapnya. Sebaliknya bagi pesantren, ini jelas adalah sebuah relasi yang berisiko tinggi, sebab bisa saja derajat kepercayaan masyarakat pada pesantren akan luntur sebagai imbas rendahnya derajat kepercayaan terhadap parpol.

Di samping itu, manajemen parpol yang masih tradisional dan sangat tergantung pada figur telah terbukti rentan terhadap konflik internal. Derajat kepercayaan masyarakat yang pada dasarnya rendah terhadap parpol akan semakin merosot dengan segala konflik itu. Kondisi ini menyebabkan relasi politik NU dengan parpol-parpol yang memiliki klaim identifikasi Nahdliyin (termasuk PKB, PKNU dan PPNUI) kian bermasalah. Hal itu masih ditambah dengan masalah lain. Banyak penelitian (seperti yang dilakukan oleh Turmudi [1996]) menunjukkan bahwa ulama pesantren yang terlibat kelewat aktif dalam politik akan mengalami degradasi kepercayaan ummat. Salah satu masalah dalam komunitas NU di tingkat lokal selama 10 tahun belakangan adalah peran para ulama pesantren yang sangat aktif dalam politik, baik dalam perebutan kursi legislatif maupun dalam persaingan untuk menduduki pimpinan eksekutif. Sementara itu, konflik kepartaian ini telah menyita energi sosial para ulama-politisi yang semestinya bisa mencurahkan perhatian lebih banyak pada aktifitas dakwah dan pendidikan.

Sejak mula pun, di daerah-daerah tersebut PKB telah berada dalam kompetisi (kalau bukan konflik) dengan PPP atas target konstituen yang sama yakni para Nahdliyyin dan Nahdliyyat. Pihak-pihak yang mengkhawatirkan terabaikannya ladang garapan asli pesantren kerap menyerukan para ulama untuk tidak terlalu asyik di gedung DPRD atau mengurusi pertikaian parpol, dan mulai mencurahkan perhatian yang semestinya terhadap santri dan ummat mereka. Jika di banyak tempat orang meributkan ‘pendudukan’ masjid-masjid NU oleh ‘orang lain’, kita patut prihatin bahwa hal itu mungkin turut disebabkan oleh tersitanya perhatian para ulama oleh aktivitas politik sehingga banyak asset fisik dan sosial NU yang terabaikan.

Penegasan Ruang

Belajar dari pengalaman sepuluh tahun terakhir, jelas perlu pengelolaan segitiga hubungan jamaah-jam’iyah-parpol ini secara lebih rapi dan profesional. Ketiga sudut dalam segitiga sama-sama memiliki arti penting. Namun kiranya diperlukan penegasan sekat antara setiap titik sudut, agar tak terjadi tumpang-tindih fungsi dan tindakan yang hanya akan melebarkan imbas negatif di satu sudut ke sudut lainnya. Tanpa penegasan yang kuat, sayap politik NU selamanya tak akan bisa dikelola secara modern dan profesional, akibat keenakan mengeksploitasi dukungan dan potensi kiai berserta pesantrennya. Parpol, yang (diharapkan) menjadi pembawa kepentingan jamaah di ranah politik, bisa selamanya tetap tidak mandiri dan tergantung pada jargon-jargon kosong semisal ‘partainya para kiai’, sementara yang dikejar tetap saja pemenuhan kepentingan segelintir elit. Kondisi semacam ini jelas sama sekali tak bermanfaat bagi pendewasaan parpol dan perilaku politik jamaah.

Jika parpol dengan basis sosial NU tetap berada dalam fase kanak-kanak, maka kita perlu bersiap-siap bahwa parpol ini sampai kapanpun tak akan sanggup bersaing dengan partai yang dikelola secara lebih modern. Padahal, ketidak-dewasaan parpol beserta seluruh konfliknya hanya akan memberi beban pada jamaah. NU sebagai jamaah dan jam’iyah tentu tak perlu terlalu banyak menanggung risiko di atas meja politik ini, sedang panggilan dakwah terus menyeru para ulama untuk lebih memperhatikan pesantren dan ummatnya.

...baca selengkapnya
Kembali ke Jakarta
Ia terpaksa meninggalkan Jakarta
Bertahun-tahun ia tinggal di Jogja
Kekuasaan militer melemparkannya ke Sumatera Utara
Hampir empat tahun kemudian, barulah ia kembali ke Jakarta

Inilah pidato pertamanya saat kembali ke Jakarta

"Kepada pegawai, kepada sodara-sodara Marhaen, sodara-sodaraku tukang betjak, sodara-sodaraku tukang sajur, sodara-sodaraku pegawai jang seketjil-ketjilnya, tidak ada satu jang terketjuali, semuanja sodara-sodara, saja sampaikan salamku kepada sodara-sodara sekalian. Alhamdulillah, sekarang di halaman ini telah berkibar sang Dwiwarna." Begitulah sapa sang pahlawan agung pada massa yang menyambutnya.



Video:
Pidato pertama Bung Karno di Jakarta
setelah pengakuan kedaulatan 1949



...baca selengkapnya
22 May 2008
Pelantikan
Berbusana putih, berkopiah hitam
Paras dan sosoknya tampak 10 tahun lebih muda,
dari usianya yang telah 48 tahun

Inilah sang pahlawan agung
Saat ia dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia Serikat
Pada tanggal 17 Desember 1949

Lokasi: Sitihingil Keraton Yogyakarta
Dilantik oleh: Ketua MA, Mr. Kusumah Atmadja

***

Video: Sukarno, saat dilantik sebagai Presiden RIS


...baca selengkapnya
8 May 2008
Syirik...!
Tadi malam saya bermimpi datang ke Masjid Nabawi di Madinah. Bukan sekali dua-kali saya bermimpi melihat masjid indah ini. Namun malam tadi, ada beberapa detail yang tak pernah saya lihat di mimpi-mimpi sebelumnya. Mihrab indah itu terpampang jelas dalam pandangan batin saat tidur. Wewangian dan kaligrafi di makam Rasululullah itu tersimak begitu jelas. Saya terbangun dengan kerinduan yang amat sangat...

Pagi ini, gara-gara mimpi itu, teringatlah saya akan cerita ayah ketika beliau naik haji 24 tahun yang lalu. Saat ayah menceritakan kisah ini, saya masih SMP. Tak banyak yang saya bisa cerna dari kisahnya ketika itu. Tapi belakangan, ada renungan lain yang kerap muncul karena mengingat cerita itu.

Ketika tiba pertama kali di Madinah dan bersegera ke Masjid Nabawi, demikian cerita ayah, salah satu keinginannya yang paling besar adalah mendoakan Rasulullah tepat di depan makam beliau. Ini keinginan yang dipendamnya sejak lama. Tentu sama saja berdoa di manapun untuk Rasulullah. Tapi kedekatan ragawi dengan makam beliau bisa memberikan conditioning yang berbeda pada hati yang mem-back up doa itu.

Doa yang ingin ayah ucapkan pun tidak rumit dan berat. Ini yang ia ingin katakan di depan makam Rasulullah: "shalawatullah 'alaik" ("semoga salawat senantiasa Allah limpahkan untukmu"). Doa ini sederhana namun bermakna dalam, sebab ayah saya ingin menghayati sensasi mengucapkan doa salawat itu langsung di hadapan Rasulullah; yes, in person. Kinipun saya selalu mengucapkan doa salawat seperti itu tiap kali mendengar nama Rasulullah disebutkan. Saya pun membayangkan mengucapkannya di hadapan beliau langsung. Ah, jika ini saya lakukan, keharuan kerap meledak-ledak tak karuan di dada. Maka bayangkanlah jika itu dilakukan di hadapan peristirahatan terakhir beliau.

Kata ayah, hari itu di Masjid Nabawi, lidahnya tercekat. Ketika ia dalam berdiri hendak mengucapkan doa itu, keharuan meluap riuh. Segala cinta dikerahkannya agar doa itu bisa terucap sempurna. Dan manakala segala reaksi kimia dalam tubuh ayah berhasil dikompromi, dan doa itu terucapkan di lidah, bertumpah deraslah airmata... Lututnya lungkrah seakan tak bertulang. Ayah menikmati ekstase cinta yang luar biasa saat itu.

Yang sama sekali tak diduga oleh ayah saya, sedetik setelah ia ucapkan sapaan cinta untuk Rasulullah dengan deraian airmata itu, didengarlah seseorang menghardik di belakang: "Syirik...!!!".

Ayah menoleh. Dilihatnya seorang askar berbadan besar mendekatinya. Askar itu lalu mendorong ayah menjauh dari hadapan makam Rasulullah, sambil sekali lagi berteriak-teriak gaduh, "syirik, syirik!"

Betapa sedihnya hati ayah saya saat itu. Kedangkalan perspektif para askar itu ('Askar Wahhabi', ayah saya menyebutnya) telah membuat mereka berpikir bahwa ekspresi cinta pada Rasulullah adalah manifestasi sikap mempertuhankan sang manusia agung ini. Doa salawat yang syahdu itu bubar-jalan oleh ketidak-mampuan manusia untuk memahami bahwa cinta tak akan pernah menyesatkan manusia; bahwa cinta pada Rasul tak akan membawa manusia mempertuhankan beliau. Tak akan...

Tapi ayah tahu, tak ada gunanya mendebat manusia berbadan besar dengan pinggang lebar tapi hati dan akal sempit itu. Maka dia pun menepi, menjauh dari pusara Rasulullah, sambil hatinya meminta maaf pada beliau. Ah, cinta memang kerap disalah-pahami oleh orang yang bukan pencinta...

...baca selengkapnya
6 May 2008
Istri Kang Uci

Tahun 1921, tokoh Sarekat Islam (SI) Bandung, Hadji Sanoesi, dikontak oleh pemimpinnya di Surabaya, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, untuk sebuah urusan pribadi. Saat itu, Kang Uci (panggilan Sanoesi) pastilah tak menyangka bahwa urusan ini bakalan berbuntut panjang.

Pak Tjok (panggilan Tjokroaminoto) meminta bantuan Kang Uci untuk menguruskan akomodasi seorang kader politiknya yang paling menonjol, yang akan kuliah di THS (Technische Hogeschool) di Bandung. Kang Uci kemudian menawarkan kader politik Pak Tjok ini untuk tinggal di rumahnya selama kuliah. Yang ditawari tak menolak. Kader politik ini lalu berangkat ke Bandung, ke rumah Kang Uci.

Siapakah kader politik andalan Pak Tjok ini? Ia tak lain adalah Soekarno.* Tak lama setelah mulai kuliah di Bandung, oleh Pak Tjok Soekarno dinikahkan dengan Oetari, putri pertama Ketua SI ini. Keduanya tinggal di Bandung di rumah Kang Uci selama beberapa waktu. Namun perkawinan ini berumur sangat pendek. Soekarno dan Oetari bercerai tanpa keduanya sempat hidup seperti layaknya suami-istri. Perkawinan mereka unconsummated. Setelah bercerai, Oetari pulang ke Surabaya, dan Soekarno meneruskan pendidikan di Bandung. Ia tetap tinggal di rumah Kang Uci.

Di rumah ini, Kang Uci tinggal bersama istrinya yang bernama Inggit Garnasih. Dialah yang sehari-hari mengurus rumah Kang Uci ini, yang di dalamnya tinggal pula beberapa mahasiswa THS lain, tak cuma Soekarno. Di antara para mahasiswa yang tinggal di sana, Soekarno-lah yang paling menonjol dan secara fisik juga paling terlihat bagus. Berbeda dari para mahasiswa lain, Soekarno tak terlalu banyak menikmati kehidupan malam dan lebih banyak bertemu teman-teman aktifis politiknya di rumah Kang Uci. Alhasil, sehari-hari Soekarno banyak bertemu dengan Inggit Garnasih.

Singkat kata, Soekarno yang saat itu berusia 20 tahun jatuh cinta pada Inggit yang berusia 35 tahun. Selisih usia mereka sama seperti selisih usia Rasulullah s.a.w. dan ummul-mu’minin Khadijah binti Khuwailid. Bedanya, Inggit adalah istri orang, dan Soekarno adalah seorang duda belia.

Soekarno tahu betul, betapa kuatnya hambatan untuk memiliki Inggit. Namun ia menolak untuk menyerah. Soekarno yang sudah kepalang jatuh cinta pada Inggit Garnasih kemudian memutuskan untuk mengambil langkah yang nekad namun heroik. Apakah yang Soekarno lakukan? Soekarno pergi menemui Kang Uci. Yang ia lakukan adalah melamar Inggit Garnasih. Harap dicatat: dia melamar bukan pada ayah Inggit, melainkan pada suaminya.

Inilah salah satu langkah paling berani (atau paling nekad?) yang dilakukan Soekarno dalam hidup pribadinya. Entah telah diperhitungkan atau tidak oleh Soekarno, ternyata Kang Uci, setelah beberapa lama mempertimbangkan, mengabulkan permintaan itu. Kang Uci menyerahkan istrinya untuk dinikahi oleh Soekarno. Pengusaha kaya ini menceraikan Inggit dengan baik-baik, dan beberapa bulan kemudian Inggit dinikahi oleh mahasiswa nekad yang bahkan belum punya penghasilan tetap itu. Kalender saat itu menunjukkan angka tahun 1923.

Sejarah kemudian mencatat, Inggit-lah yang turut menempa Soekarno. Dialah yang mendukung perjuangan calon proklamator itu. Inggit-lah tulang punggung ekonomi keluarga, sebab Soekarno menolak untuk bekerja sebagai arsitek selulus THS, dan memilih untuk memimpin pergerakan nasional. Inggit-lah yang turut mengatur jadwal dan akomodasi Soekarno berpidato di depan massa untuk menyebarkan benih nasionalisme. Dialah pula yang mendampingi masa-masa Soekarno dipenjara di Bandung, lalu dibuang ke Ende, dan kemudian ke Bengkulu. Inggit-lah sumber inspirasi politik kedua bagi Soekarno, setelah Tjokroaminoto. Bersama Inggit-lah Soekarno menuangkan gagasan hibrida politiknya dalam tulisan Nasionalisme, Agama dan Marxisme (1926), yang merupakan cetak-biru format ideologi negara yang 20 tahun kemudian didirikannya.

Semua ini diawali oleh sebuah kenekadan cinta yang barangkali tidak (atau belum) ada tandingannya dalam sejarah. Semua dimulai oleh keugalan Soekarno, yang memutuskan untuk mengikuti angin mahabbah yang melambai memanggilnya…

***

Catatan:

* Sebelum tahun 1947, Bung Karno menuliskan namanya sebagai ‘Soekarno’. Sejak diberlakukannya ejaan Soewandi pada tahun itu, penulisan nama ini berubah menjadi ‘Sukarno’.

PS. Cerita ini bisa ditemukan di beberapa buku, termasuk:

  • Ramadhan K.H. 1981. Kuantar ke gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno. Jakarta, Sinar Harapan, 1981.
  • Sukarno. 1965. Sukarno: An Autobiography as told to Cindy Adams. New York, Bobbs-Nerrill.


...baca selengkapnya
2 May 2008
Katanning

Catatan tentang kota Katanning ini sebenarnya sudah saya draft sejak lama, segera setelah saya mengunjungi kota ini beberapa hari lepas Idul Fitri akhir 2007 lalu. Tapi entah kenapa, draft ini terbengkalai di folder komputer, lupa saya rapikan dan saya publish. Tak sengaja saya tadi temukan kembali, kiranya sayang sekali jika catatan tentang Katanning ini cuma tersimpan di sudut harddisk.

***

Katanning adalah sebuah kota kecil yang terletak 300-an km ke arah selatan Perth. Di sini terdapat komunitas Muslim Melayu yang cukup solid. Sebagian besar dari mereka berasal dari dari Cocos Island alias Pulau Kelapa. Generasi pertama Melayu itu datang untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di pemotongan kambing. Para jagal Muslim itu diperlukan untuk memproduksi daging domba halal. Kini, Muslim Melayu meliputi hampir 10 % dari 4000-an penduduk kota ini.

Di kota kecil ini ada sebuah masjid besar lengkap dengan madrasah. Itulah salah satu alasan penting saya datang ke kota ini beberapa bulan yang lalu, selain untuk mengerjakan sebuah penelitian tentang komunitas Muslim di Australia. Salah satu hal yang ingin saya lakukan di kota ini adalah salat Jumat di masjidnya. Ini keinginan yang sudah cukup lama saya simpan, semenjak pertama kali mendengar cerita bahwa suasana Jumatan di Katanning sangat mirip dengan suasana di kampung di Indonesia (tentu tergantung visi teologis masjid tempat Jumatan itu dilaksanakan).

Demi mencapai tujuan untuk Jumatan di Katanning itulah, kami sekeluarga berangkat dari Perth pada hari Kamis pagi — Kamis pertama setelah Idul Fitri saat itu. Dengan berangkat Kamis pagi, maka siang dan sorenya saya bisa segera mengitari dan mengenali sudut-sudut kota ini, sehingga esoknya saya bisa mulai melakukan aktifitas penelitian sepagi mungkin, dan memiliki cukup waktu untuk mengikuti salat Jumat.

Perth-Katanning bisa kita tempuh dalam waktu 3 jam. Sebagian besar jalan yang kita lalui antara kedua kota adalah freeway dengan kecepatan maksimal 110 km/jam, sehingga kita bisa mengembangkan kecepatan secara leluasa. Di jalanan yang cukup lapang dan sepi, mobil kadang saya genjot sampai 130 km/jam, meski kalau ingat dengan denda pelanggaran batas kecepatan (yang cukup tinggi) segera saya turunkan lagi sebatas yang diijinkan. Tak banyak pemandangan di kanan-kiri jalan antara Perth dan Katanning, kecuali beberapa peternakan domba yang hamparan padang rumputnya begitu indah berlatar belakang bebukitan kecil dan langit bersih. Dedaunan beberapa jenis pohon yang berwarna kemerahan membuat tingkahan warna yang indah bersama hijaunya padang rumput dan birunya langit. Para fotografer tentu tak akan mensia-siakan komposisi RGB (Red-Green-Blue) yang sempurna ini.

Siang, sedikit lepas dzhuhur, kami sampai di Katanning. Begitu membelok ke arah kiri dari Great Southern Hwy menuju pusat kota, mata saya menangkap sebuah spanduk berukuran sedang, yang tergantung di sebuah tiang di bunderan dekat lintasan kereta-api. Di spanduk itu terdapat gambar tiga buah ketupat, dan tulisan huruf latin yang kaligrafis. Tulisan itu berbahasa Melayu: “Selamat Hari Raya Aidil Fitri“. Setelah melintasi bunderan, terlihatlah pula bahwa spanduk itu memiliki dua muka, dan di sisi sebaliknya terdapat gambar bintang dan bulan sabit, serta tulisan latin dalam bahasa Arab: “Eid Mubarak“.

Dari bunderan dengan spanduk idul fitri ini, kami terus ke arah utara sedikit, dan berhenti sejenak di bagian yang nampaknya adalah pusat kota. Kami keluar dari mobil untuk melihat-lihat suasana sekitar, ketika tiba-tiba seorang pemuda berambut ikal sedikit gondrong mendekati kami. “Assalamu’alaikum,” ia menyapa sambil tangannya memberi isyarat ke arah Miming, istri saya: ia mengenali kami sebagai Muslim karena melihat seorang perempuan berkerudung. “Wa’alaikum salam”, kami menjawab sapaannya. Ia kemudian, dalam bahasa Melayu, memberitahukan pada kami tempat-tempat untuk membeli makanan halal, serta bahwa esok salat Jumat akan dimulai jam 1 siang.

Usai berbincang dengan pemuda tadi (keesokan harinya saya akan tahu bahwa pemuda ini adalah adalah seorang seniman bernama Shahran, dan bahwa ialah yang membuat spanduk idul fitri itu, atas permintaan Islamic Association of Katanning [IAK]), kami berputar-putar sejenak mengitari kota Katanning yang sama sekali tak memiliki traffic-light ini. Dari pusat kota kami pergi ke arah utara, dan kemudian berbelok ke kiri ke arah tempat di mana masjid Katanning berada.

Masjid Katanning berukuran cukup besar (lebih besar dari masjid yang ada di pusat kota Perth). Masjid ini diresmikan tahun 1981 oleh Tunku Abdurrahman Putra. Seperti saya ceritakan di atas, masyarakat Muslim di Katanning hampir semuanya (kecuali satu-dua orang Indonesia, Somalia atau Afghanistan) berasal dari Cocos Island. Kendati Cocos Island ini bagian dari Australia (masuk dalam wilayah negara bagian Western Australia), namun penduduk setempat lebih merasa diri sebagai orang Melayu. Di Katanning, mereka sangat menjaga identitas kemelayuan ini, termasuk bahasa Melayu yang masih dipakai hingga kini. Karena itu, tak heran ketika berhasil membangun masjid, PM Malaysia pulalah yang mereka daulat untuk meresmikan.

Masjid itu didirikan di atas tanah yang cukup luas, yang tahun 1970-an dibeli oleh komunitas Muslim Katanning seharga A$3,500. Nampaknya masjid ini telah mengalami renovasi semenjak didirikan (bandingkan dua gambar yang diambil 1981 ini, dan yang diambil beberapa bulan lalu di atas). Perbedaan terlihat jelas di bagian depan. Halaman masjid ini sekarang didesain untuk bisa menampung cukup banyak mobil. Saya lihat masyakarat Muslim yang bekerja di rumah pemotongan ternak di Katanning itu cukup menggemari mobil SUV tahun terbaru yang berukuran cukup besar. Saya lihat beberapa di antara mereka (termasuk Imam masjid serta seorang migran asal Medan yang telah tinggal di Katanning beberapa belas tahun) mengendarai Ford Territory model terbaru. Saat salat Jumat saya juga melihat sebuah truk besar diparkir di halaman depan masjid. Seorang Muslim asal Bosnia yang sopir truk pengangkut mobil mampir di sana untuk Jumatan.

Saat berada di dalam masjid Katanning ini, kita akan merasa berada di sebuah tempat di Malaysia atau Indonesia. Kecuali heater yang terdapat di beberapa bagian dinding masjid ini, tak ada satu barangpun yang membuat kita merasa berada di Australia. Semua hiasan dan perabot di dalam masjid ini sangat ‘Melayu’. Papan pengumuman berbahasa Melayu, dan hiasan kaligrafi di dinding diberi terjemahan bahasa Melayu. Di kanan-kiri mihrab terdapat kaligrafi berpigura, yang isinya lafal niat salat tahiyyat masjid, dan lafal niat iktikaf. Keduanya disertai terjemahan dalam bahasa Melayu.

Tatacara salat Jumat di masjid ini mirip sekali dengan yang saya temui di kampung saya di Madura — dan di lingkungan masyarakat nahdliyyin lainnya di Indonesia. Adzan diucapkan dua kali. Adzan pertama dikumandangkan sebagai penanda masuknya waktu dzhuhur. Ketika khutbah akan dimulai dan khatib akan dipersilakan naik mimbar, muadzdzin pun berdiri memegang tongkat, lalu membacakan hadits tentang keutamaan Jumat serta keharusan jamaah untuk diam saat khutbah sedang disampaikan. Setelah itu khatib berdiri, melangkah menuju mimbar sambil menerima tongkat dari muadzdzin yang sementara itu membaca doa dan salawat. Khatib menaiki tangga mimbar, berbalik menghadap jamaah, mengucapkan salam dan kemudian duduk. Saat inilah adzan kedua dikumandangkan. Usai adzan, khutbah pun disampaikan dalam bahasa Melayu.

Selebihnya sama seperti salat Jumat di masjid manapun. Yang kemudian juga mengingatkan saya pada suasana masjid di kampung halaman adalah saat Imam mulai memimpin salat. Jelas-jelas saya dengar ia mengucapkan kalimat “ushalli fardlal jumu’ati rak’atayni imaaman, lillaahi ta’ala” sebelum takbiratul ihram. Juga berbeda dari tatacara salat di banyak masjid di Australia, usai salat Jumat dua rakaat Imam pun memimpin dzikir bersama; membaca tasbih, hamdalah, dan takbir masing-masing 33 kali bersama-sama; kemudian ditutup dengan doa yang diaminkan seluruh jamaah. Kelak ketika hal ini saya ceritakan pada beberapa orang teman, komentar mereka rata-rata sama: “Katanning itu nahdliyyin banget ya…” :)

Ah, nahdliyyin atau bukan, itu tidak terlalu penting. Yang pasti buat saya, Jumatan di Katanning hari itu adalah Jumatan paling berkesan selama saya berada di Australia…


...baca selengkapnya